Home  >  Press & Articles  >  Gamma Knife: Metode bedah otak tanpa Pisau

Gamma Knife: Metode bedah otak tanpa Pisau

Sinar-gamma di sini adalah gelombang elektromagnetik yang dihasilkan oleh radioisotop 60Co. Jadi gamma-knife adalah ‘pisau’ bedah yang menggunakan sinar-ɣ untuk memotong atau merusak jaringan, karena  tidak menggunakan pisau sesungguhnya maka disebut sebagai knifeless surgery. Telah diketahui secara umum bahwa sinar gamma digunakan dalam tindakan medis sebagai pengobatan radiasi (radioterapi) untuk menghancurkan penyakit kanker dan kelainan lain.

Pengobatan radiasi.

          Bersama-sama dengan pembedahan dan khemoterapi, radioterapi merupakan salah satu disiplin ilmu yang telah digunakan tidak lama setelah penemuan sinar-X pada akhir abad ke 19. Ternyata sinar-X disamping kegunaannya untuk mendiagnosis kelainan seperti patah tulang, infeksi, adanya tumor dll. pada dosis dan metode tertentu dapat mengakibatkan kematian pada jaringan kanker.

         Sejalan dengan perkembangan teknologi saat itu, diketahui pula bahwa berbagai unsur alami seperti radium dan radioisotop hasil rekayasa seperti kobalt-60 dapat menghasilkan sinar-gamma yang mempunyai karakter sama dengan sinar-X saat sinar tersebut berinteraksi dengan jaringan. Tumbukan sinar-X atau sinar-gamma pada jaringan akan mengakibatkan kerusakan DNA jaringan tersebut, kerusakan ini akan disusul dengan kematian. Beruntung bahwa sebagian besar jaringan sehat mempunyai daya tahan lebih tinggi daripada daya tahan jaringan kanker pada peristiwa ini. Kobalt-60 digunakan sebagai radiasi eksterna sejak tahun 50an untuk mengobati berbagai jenis kanker. Pada pelaksanaan untuk pengobatan radiasi eksterna sumber kobalt-60 dipasang dalam sebuah bangunan kedap sinar radioaktif yang apabila akan digunakan sebuah jendela seperti diafragma yang terletak tepat di depan sumber dibuka sehingga sinar-gamma dapat keluar dan mengenai target, target dalam hal ini adalah jaringan kanker yang sudah dipetakan. Sinar -gamma maupun sinar-X dapat menembus berbagai jaringan sehat guna mencapai targetnya tadi, dan guna mengurangi cedera pada jaringan sehat sekitarnya sejak 2 dekade terakhir ini berbagai metode telah digunakan dalam pengobatan, seperti 3-Dimension conformal planning, IMRT (Intensified Modulated Radio Therapy), stereotactic radio surgery(SRS, seperti pada gamma-knife) dan lain lain.

          Dalam tatalaksana pengobatan penyakit kanker padat maka pembedahan hampir selalu merupakan pilihan utama, dapat berkombinasi dengan radiasi dan/atau kemoterapi. Kombinasi pengobatan tersebut bertujuan untuk memperoleh hasil optimal, dalam artian semua sel kanker dibersihkan dari tubuh tetapi di lain pihak cedera yang terjadi akibat kombinasi pengobatan ini minimal. Namun dalam kenyataannya seringkali dijumpai keadaan dimana tindakan bedah tidak dapat dilakukan. Di luar kondisi kesehatan pasien yang dapat merupakan kendala untuk dapat dilakukannya pembedahan juga karena sulitnya akses ke bagian tubuh yang akan dioperasi. Kesulitan untuk mencapai target organ antara lain terjadi pada kelainan jaringan otak yang letaknya dalam serta dikelilingi oleh jaringan otak sehat.

Penggunaan gamma-knife pada berbagai kelainan otak.

         Otak merupakan organ yang tersembunyi dalam tempurung kepala, sehingga untuk mencapai target di dalamnya diperlukan pembukaan tempurung kepala ini serta menembus jaringan-jaringan vital parenkim otak. Dengan menggunakan gamma-knife hal ini tidak perlu terjadi, bahkan tidak diperlukan sayatan pada kulit kepala, tidak diperlukan bius umum, prosedur berlangsung lebih cepat, tidak diperlukan rawat inap, serta dinilai cukup nyaman.

         Gamma-knife telah digunakan pada pengobatan kelainan otak sejak tahun 1967 oleh Prof. Lars Leksell di Institut Karolinska Stockholm, Swedia. Kelainan pada otak yang selama ini ditangani dengan sukses adalah kelainan tumor jinak meningioma (tumor selaput otak), glioma, tumor pada hipofisis (kelenjar di bawah otak), vestibular schwannoma (tumor pada selubung syaraf akustik), atau tumor ganas yang berasal dari jaringan otak, atau anak sebar kanker di otak (terutama dari kanker paru dan kanker payudara), kelainan bukan tumor seperti arterio-venous malformation (AVM = kelainan pada pertemuan arteri dan vena dalam otak yang menyebabkan gejala menyerupai tumor otak), trigeminal neuralgia yang memberikan gejala serangan nyeri pada wajah yang intens tetapi pendek antara lain akibat penekanan pada syaraf V. Pengembangan selanjutnya pengobatan dengan gamma-knife adalah kelainan fungsional otak seperti penyakit Parkinson, tremor dan eplilepsi.

Pelaksanaan radiasi dengan gamma-knife

       Sebelum dilakukan tindakan radiasi, perencanaan yang teliti dengan bantuan berbagai alat pencitraan untuk mengidentifikasi lokasi target, termasuk adanya jaringan vital di sekitarnya, ukuran serta bentuk target adalah mutlak. Setelah itu dilakukan simulasi penyinaran target dengan menggunakan treatment planning system, atau sistem perencanaan radiasi. Apabila telah diperoleh hasil perencanaan yang optimal barulah pasien didorong ke ruangan radiasi. Pelaksanaan radiasi dikerjakan dengan menjamin agar kepala pasien tidak dapat bergerak dengan alat fiksasi yang kemudian dipasang ke dalam sebuah helm yang berisi sekitar 200 butir sumber kobalt-60 (bervariasi untuk setiap spesifikasi alat antara 192 sampai dengan 201butir). Selanjutnya radiasi berlangsung sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat. Sumber tersebut memancarkan sinar-gamma yang terfokus tepat pada target.

        Guna memperoleh tingkat presisi yang tinggi dalam melakukan radiasi pada kelainan di otak perlu dilibatkan berbagai teknologi pencitraan seperti MRI (magnetic resonance imaging) kapasitas minimal 1,5 Tesla atau MSCT (multi slices Computerized tomography scanning) dan angiografi pada AVM.

Bagaimana di Indonesia?

        Metode gamma-knife telah dilakukan sejak lama di berbagai negara maju. Tidak kurang dari 50 ribu pasien per tahun di seluruh dunia telah diselamatkan setelah menjalani dengan metode pengobatan ini.  Alat bedah Gamma Knife perfexion telah terpasang di Siloam Hospitals Lippo Village, Tangerang. Ini akan merupakan alat pertama di Indonesia yang akan didedikasikan bagi penderita kelainan otak seperti yang diuraikan di atas.

         Satu tim yang terdiri atas dokter-dokter spesialis bedah-syaraf, radiasi-onkologi, tenaga fisikawan medik dari Indonesia telah mengikuti berbagai pelatihan di rumah sakit di Marseille, Perancis; Gamma-Knife Centre di Tilburg, Belanda serta di pusatnya Elekta, Stockholm, Swedia, guna mengoperasionalkan alat tersebut.

(Article ini ditulis oleh Prof Dr. dr. Susworo Sp.Onk, Guru Besar UI dan telah dipublikasikan di beberapa media)